Saya Dr. Ni Kadek Surpi Arya Dharma, seorang dosen, ilmuwan dan pengabdi. Sejak awal pergerakan, tujuan utama saya adalah membantu peningkatan SDM Indonesia. Salah satu caranya adalah upaya peningkatan literasi.
–
Tingkat literasi merupakan indikator penting kemajuan suatu bangsa. Di Indonesia, berbagai data menunjukkan bahwa tantangan literasi masih nyata. Rata-rata waktu membaca masyarakat berada pada kisaran 4–5 jam per minggu, sementara tingkat aktivitas literasi nasional sekitar 13,96%. Dalam pemeringkatan global, Indonesia menempati peringkat 69 dari 77 negara pada literasi dasar serta peringkat 81 dari 127 negara dalam literatur. Posisi tersebut menegaskan bahwa penguatan budaya baca masih menjadi pekerjaan besar yang memerlukan keterlibatan banyak pihak.
–
Jika ditinjau lebih jauh, minat baca masyarakat Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara-negara dengan tradisi literasi kuat. Membaca belum sepenuhnya menjadi kebutuhan sehari-hari, melainkan masih dipandang sebagai aktivitas akademik atau kewajiban sekolah. Akses bahan bacaan yang tidak merata, keterbatasan buku berkualitas di daerah tertentu, serta dominasi hiburan digital turut memengaruhi rendahnya intensitas membaca. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga ekosistem yang mendukung tumbuhnya kebiasaan membaca sejak dini.
–
Kondisi literasi tersebut berkorelasi dengan kualitas pembangunan manusia. Dalam Human Development Index (HDI), Indonesia berada di sekitar peringkat 114 dari 193 negara (2022). Capaian ini menempatkan Indonesia pada kategori pembangunan manusia menengah–tinggi, namun masih tertinggal dari banyak negara lain di kawasan. Dimensi Pendidikan yang sangat terkait dengan literasi menjadi salah satu faktor penentu dalam peningkatan HDI. Tanpa budaya baca yang kuat dan akses pengetahuan yang luas, peningkatan kualitas sumber daya manusia akan berjalan lebih lambat.
