Keris merupakan warisan budaya dunia non bendawi, seperti yang telah ditetapkan oleh UNESCO sejak tahun 2008. Artinya warisan budaya tersebut bukan saja menyangkut kebendaan tetapi juga informasi dan alih pengetahuan yang ada di dalamnya. Perawatan, pelestarian dan juga pembuatan keris idealnya merupakan hal yang harus dilakukan menyangkut korelasi keris dengan kebudayaan di Nusantara. Berbagai praktik kebudayaan seperti penggunaan keris dalam berbagai upacara atau ritual adat juga masih tetap berlangsung di Indonesia.
Meski demikian, fenomena mengenai tosan aji khususnya keris seperti tidak habis- habisnya untuk dibahas. Terlebih opini publik masih memandang negatif terhadap keris yang dianggap sebagai unsur klenik, bagian dari perdukunan bahkan menjurus kepada penyembahan terhadap benda. Benarkah keris hanya dapat diperlakukan semacam itu? Apakah bedanya keris pusaka, keris suvenir dan keris kodian?
Buku ini justru mau membahas soal keris khususnya di Jawa dan Bali dengan membedah dari sisi tafsir politik, ekonomi, teknologi dan kebudayaan yang berkembang. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan lanjutan tetap dilakukan hingga mendapat jawaban yang sekiranya memuaskan. Mengapa keris dianggap benda yang menakutkan? Mengapa harus menggunakan nalar, memisahkan mistik dengan klenik? Mengapa alih pengetahuan dan teknologi tosan aji tidak berjalan sempurna? Bagaimana fungsi sosial politik keris dari masa ke masa? Kenapa ada pemalsuan? Mengapa sebagian media massa malah memberi stigma buruk terhadap keris? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu dan yang lebih sensitif yang akan muncul dan coba dikupas lugas secara kritis di dalam buku ini.