Pendidikan Berbasis Cinta mengajak pembaca meninjau kembali hakikat pendidikan di tengah kemajuan teknologi dan kompleksitas dunia modern. Berangkat dari kegelisahan atas lunturnya dimensi humanis dalam sistem pendidikan, buku ini menempatkan cinta (prema) dan kebajikan moral (dharma) bukan sebagai slogan normatif, melainkan sebagai fondasi epistemik dan etis yang menentukan arah pembentukan manusia seutuhnya. Melalui kajian komparatif di Indonesia, India, dan Thailand, buku ini menunjukkan bahwa dharma dan prema bukan warisan masa lalu yang statis, tetapi nilai hidup yang terus bertransformasi dalam praktik sosial, tradisi pendidikan, ritual keagamaan, hingga kebijakan kontemporer. Perbedaan konteks ketiga negara justru memperkaya pemahaman tentang bagaimana nilai-nilai tersebut dapat direvitalisasi menjadi kurikulum cinta—sebuah pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan dimensi intelektual, moral, spiritual, dan afektif secara utuh. Lebih dari laporan penelitian, buku ini merupakan refleksi filosofis yang menawarkan paradigma pendidikan alternatif: pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk kepekaan batin, tanggung jawab etis, dan kepedulian sosial. Ditujukan bagi akademisi, pendidik, pembuat kebijakan, orang tua, dan pemerhati pendidikan, karya ini menghadirkan landasan konseptual sekaligus inspirasi praktis untuk membangun pendidikan yang berakar pada kebijaksanaan dan belas kasih. Karena tanpa cinta, pendidikan kehilangan maknanya; dan tanpa dharma, cinta kehilangan arah.