Buku ini menghadirkan refleksi tajam tentang pengetahuan, kepemimpinan, dan spiritualitas yang dijalani perempuan dalam relasi intim dengan alam. Di ruang yang oleh tradisi dimaknai sebagai Cintāmaṇi, permata kesadaran, perempuan-perempuan Batur tampil sebagai penjaga keseimbangan: antara sakral dan profan, ekologi dan kosmologi, adat dan modernitas.
Melalui praktik sehari-hari yang kerap tampak sederhana, mereka mengolah pengetahuan yang berakar pada tubuh, ritus, dan pengalaman ekologis. Kepemimpinan yang mereka jalankan tidak bersuara lantang, tetapi bekerja melalui intuisi, ketekunan membaca tanda-tanda alam, dan kemampuan menerjemahkan perubahan ekologis menjadi keputusan sosial yang bermakna. Buku ini menunjukkan bahwa pengetahuan semacam itu bukan residu masa lalu, melainkan sistem yang adaptif, mampu menafsir ulang tradisi di tengah tekanan pariwisata, krisis iklim, dan tuntutan ekonomi kontemporer.
Dengan analisis yang memadukan perspektif akademik dan refleksi etnografis, buku ini mengajak pembaca melihat keberlanjutan bukan sekadar agenda teknokratis, melainkan disiplin kesadaran yang menyatukan spiritualitas dan ekologi. Cintāmaṇi di sini bukan hanya metafora, tetapi cara pandang: sebuah undangan untuk memahami dunia secara utuh, dan untuk memberi tempat yang layak bagi kekuatan lembut perempuan yang menjaga bumi dalam keheningan, namun dengan dampak yang menjangkau hingga akar kehidupan.