Kemiskinan, penolakan, dan kehilangan menandai perjalanan awal Ketut Arsana. Dari sebuah rumah sederhana di Padangtegal, Ubud, ia tumbuh dengan semangat jengah: tekad untuk bangkit, melampaui keterbatasan, dan membuktikan diri melalui tindakan.
Dalam Jengah: Jejak Sang Manah, Sawitri menelusuri kehidupan ayahnya—dari masa kecil yang sulit, pencarian ilmu, perjuangan membangun keluarga, hingga pengabdian sebagai terapis dan pembimbing spiritual. Duka yang mengguncang keyakinan, keberanian meninggalkan kemapanan sebagai abdi negara, serta ketekunan merintis ruang pelayanan menjadi bagian dari perjalanan yang mempertemukan kerja keras, spiritualitas, dan kepedulian terhadap sesama.
Di balik perjalanan itu, hadir suara seorang anak perempuan yang belajar memahami ayahnya. Jarak emosional, kasih yang lebih sering dinyatakan melalui tanggung jawab, dan keterbatasan seorang manusia membuka ruang untuk melihat Arsana secara lebih utuh.
Buku ini mengajak pembaca menyelami bagaimana luka diolah menjadi kesadaran, bagaimana keyakinan diwujudkan dalam kerja, dan bagaimana keberhasilan memperoleh makna melalui manfaat yang diberikan kepada orang lain. Sebuah kisah tentang keberanian bertumbuh, berdamai dengan masa lalu, dan meneruskan warisan pengabdian.