Mahābhārata bukan hanya kisah perang dan perebutan kekuasaan. Di dalamnya hadir Gangga, Satyawatī, Kuntī, Gandarī, Draupadī, dan Śikhaṇḍi, perempuan-perempuan yang berpikir, memilih, berdoa, melawan, memimpin, dan ikut menentukan arah sejarah. Teo-Feminisme dalam Mahābhārata membaca kembali epos ini melalui perjumpaan antara spiritualitas Hindu dan perjuangan menuju kesetaraan. Bhakti, tapa, mantra, Śakti, tubuh, hukum, keluarga, dan kekuasaan dipertemukan dalam pengalaman perempuan yang kompleks. Dengan bahasa akademik yang tetap mudah diikuti, buku ini mengajak pembaca melihat Mahābhārata s ebagai cermin untuk memahami martabat, keadilan, dan relasi yang lebih setara. Sebab penghormatan kepada perempuan tidak cukup berhenti pada simbol Dewi dan Śakti, tetapi harus hadir dalam kehidupan nyata.